Jumat, 27 Januari 2012

DAUN YANG GUGUR



    Musim hujan yang dingin, kini telah berganti dengan musim kemarau yang panas dan gersang. Waktu terasa cepat berlalu dan pergi tanpa meninggalkan jejak, hanya meninggalkan sebuah cerita. Mungkin sekarang hari-hariku masih menyedihkan dan bagiku mungkinmusim hujan dan musim kemarau tidaklah berbeda. Namun hal itu hanyalah sebuah anggapan yang tidak pernah terjadi, karena pertemuanku dengan Dia. Dia yang sekarang selalu ada disampingku.
    Musim kemarau lalu aku adalah seorang gadis yang tidak pernah memikirkan orang lain. Sampai akhirnya aku bertemu Indi, dia adalah seorang gadis manis dan juga baik hati. Bulan februari lalu, musim kemarau lalu indi adalah murid pindahan dari SMU 2 Karawang.
“anak-anak hari ini kita akan kedatangan murid pindahan dari smu 2 karawang, indi silakan masuk…”
“baik, Hai perkenalkan nama saya indi anitarani, saya murid pindahan dari smu 2 karawang, salam kenal…”
“wah… cantik nih, boleh donk daftar….”
Gurau anak laki-laki di kelasku.
“ma’af, tapi aku hanya menerima pendaftaran teman,…”
Jawaban indi  santai, dengan menunjukkan wajah manisnya.
“sudah-sudah, indi silahkan kamu duduk di banku kosong sebelah leoni”
“baik…”
    Waktu mendengarka perkenalannya aku merasa acuh, namun kemudian…
“hai… aku boleh duduk di sampingmukan??”
Dengan tatapan manisnya dia menyapaku,
“terserah…”
Jawabku ketus,
“baiklah aku anggap itu adalah iya, trimakasih. Oh ya, namaku indi. Kamu boleh panggil aku iin kok. Kalau boleh tahu… siapa namamu??”
Dia masih berbicara manis padaku, padahal aku sama sekali tidak menanggapinya. Akupun juga tidak menjawab pertanyaannya.
“kalau tidak mau juga tidak apa-apa kok….”
“tetttttttttttt………….teetttttttttttt…………teeeeeeeeeetttttttttttttttttt…………..”
Bel berbunyi menandakan istirahat telah tiba, aku keluar duluan tanpa menghiraukan indi.
Hari-hari di sekolah waktu itu menurutkutidak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya yang tanpa hadirnya indi.
Sampai pulang sekolahpun, aku dan indi masih bertemu lagi….
“hai, namamu anggun kan, nama yang bagus, kita jalan bareng yuk! Rumah kamu di perumahan melati putih kan? Aku juga…”
Dia berjalan dengan riang dan terus berada di sampingku.
“wah, enak juga ya! Kalau mpunya teman sekelas, sebangku, dan seperumahan. Jadi bisa pulang ba……..”
“kamu ini sebenarnya kenapa sih! Apa gag ada kerjaan lain selain berbicara denganku seperti ini?”
Jawabku dengan ketus.
Aku terus berjalan dan kemudian…
“apakah dia akan bahagia jika melihatmu demikian disini? Apakah dia akan bahagia jika kau seperti ini disini? Apakah kau pernah memikirkan dia yang ada disana?”
Kata-katanya membuat tubuhku sejenak bergetar, jantungku berdetak kencang, dan pikiranku tak menentu arah, seakan jiwaku kosong dalam sekejap… dan saat ku terbangun…”
“apa yang kamu ketahui tentang aku?”
“aku tidak tahu apa-apa tentangmu, tapi aku sedikit tahu tentang dia… maksudku hubunganmu dengan dia dari teman-teman dikelas, aku mulai membuat kesimpulan tentang dia dihatimu…”
Ucapannya begitu halus dan sanggup menggetarkan jiwaku…
“walaupun dia itu teman terbaik dalam hidupmu bukan berarti teman yang lain tidak baik untukmu bukan? Apakah dia akan senang jika melihat kau sebagai sahabat baiknya menutup dirinya karena kepergiannya. Aku rasa dia akan s menyesal karena menukar nyawanya jika tahu kau akan seperti ini. Saat dia menyelamatkanmu, dia pasti ingin kau tetap hidup dan bahagia…  namun ternyata kenyataan mengatakan terbalik dari apa yang diharapkannya,…. Uhm… tapi itu hanya menurutku lho….”
Dia maih sanggup tersenyum ketika mengatakannya, dan saat itu juga dia bagaikan malaikat yang dikirim leoni, sebagai pengingat untukku karena tidak ingin melihatku seperti ini di dunia setelah kepergiannya di surga…..
“kenapa kau begitu mengerti tentang dia?”
“karena jika aku menjadi leoni, ketika aku melihat sahabatku seperti kamu ini pasti aku akan sedih…..”
Sejenak aku tetskan air mata…
“jadi mulai sekarang, ayo kita saling berjabat tangan, menempuh dunia dengan senyuman.. biarlah daun-daun yang gugur di musim kemarau gugur, toh nanti pasti akan muncul daun-daun muda yang di sertai bunga-bunga yang tumbuh dengan indahnya, bukan?”
Kutatap wajah tulusnya, kuraih tangannya, kemudian kupeluk dan ungkapkan seluruh perasaan hati yang telah lama kupendam…
“seharusnya akulah yang harus pergi, bukan leoni! Aku menyesal karena tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Ma’af karena aku menyakiti hatimu, leoni…. Ma’af… aku pikir jika aku memiliki teman yang lain aku akan menghianati pertemanan kita, karena aku menduakannmu… aku tidak tahu kalau itu akan membuatmu bersedih…. Ma’af…”
“iya, sudah…. leoni pasti akan mengerti….”
    Hari itu kutuangkan semuanya, semua yang mengganjal hatiku…
    Mungkin memang benar, dia adalah malaikat dalam hidupku…
    Nah, sekarang musim kemarau akan datang kembali, daun-daun dan bunga-bunga yang indah akan gugur kembali. Namun, bukankah daun-daun dan bunga-bunga itu akan tumbuh lagi dimusim semi?
    Biarlah daun-daun gugur, asalkan jangan sampai rasa pertemanan kita ikut gugur karena satu teman kita gugur. Jadikan semua itu sebagai batu loncatan untuk mendapatkan lebih banyak teman lagi, benar begitukan? Teman…………


0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates